Total Tayangan Halaman

Klasemen BPL

Jumat, 30 November 2012

Penemuan NASA

NASA Temukan Es di Planet Paling Dekat Matahari

Ilmuwan NASA juga menduga ada materi organik di Merkurius.

Sabtu, 1 Desember 2012, 06:19 Bayu Galih, Amal Nur Ngazis
Foto permukaan planet Merkurius yang diambil oleh Satelit MESSENGER
Foto permukaan planet Merkurius yang diambil oleh Satelit MESSENGER (nasa)
VIVAnews - Pesawat ruang angkasa Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA),
Messenger, telah melihat es yang melimpah di Merkurius. Tentu ini penemuan yang menarik, sebab Merkurius merupakan planet terdekat dengan matahari.

Suhu di Merkurius bisa mencapai 800 derajat Fahrenheit atau 427 derajat Celsius. Tetapi di sekitar kutub utara planet itu, di daerah permanen yang terlindung dari panas matahari, pesawat ruang angkasa Messenger milik NASA menemukan campuran air beku dan kemungkinan materi organik.

Bukti es yang besar terlihat di lintang 85 derajat utara sebelum kutub utara planet Merkurius, dengan lapisan yang lebih kecil tersebar sejauh 65 derajat utara.

Gregory Neumann, ilmuwan instrumen Messenger NASA di Goddard Space
Flight Center di Maryland, AS, mengatakan penemuan tersebut menyebabkan NASA akan mengarahkan pengamatan pesawat ruang angkasa Messenger terhadap daerah itu dalam beberapa bulan mendatang. Lebih tepatnya, saat sudut yang memungkinkan pencahayaan dari matahari menghasilkan gambar yang lebih baik.

"Ada misi yang sedang berlangsung, saat pesawat ruang angkasa memungkinkan untuk melihat lebih jauh ke utara," kata Neumann, penulis utama dari salah satu tiga studi Merkurius di jurnal "Science" edisi 29 November 2012.

Para peneliti juga percaya bahwa kutub selatan Merkurius memiliki es. Namun, orbit Messenger tidak memungkinkan untuk memperoleh penglihatan yang lebih luas dari wilayah tersebut.

Messenger akan terbang spiral lebih dekat ke Merkurius pada 2014 dan 2015, mengingat pesawat ini kehabisan bahan bakar dan terganggu oleh gravitasi matahari dan Merkurius. Pesawat ruang angkasa ini akan memudahkan peneliti melihat lebih dekat es itu. Sehingga para peneliti mengetahui seberapa banyak es di planet tersebut.

Spekulasi tentang es di Merkurius muncul lebih dari 20 tahun lalu. Pada 1991, astronom menembakkan sinyal radar ke Merkurius dan menerima hasil yang kemungkinan menunjukkan ada es di kedua kutub. Hal ini diperkuat saat dilakukan pengukuran pada 1999, yang menggunakan sorotan radio teleksop Arecibo Observatorymicrowave di Puerto Rico yang lebih kuat.

Radar kembali menyoroti kutub melalui New Mexico Array Very Large,  sebuah kompleks observatorium astronomi radio yang menunjukkan daerah putih yang diduga peneliti adalah es.

Sebuah pemandangan yang lebih dekat, tentunya memerlukan sebuah pesawat ruang angkasa. Pesawat ruang angkasa Messenger kemudian menetap ke orbit Merkurius pada Maret 2011, setelah beberapa flybys (sejenis misi penerbangan pesawat ruang angkasa) diluncurkan.
Selanjutnya, NASA menggunakan laser pengukur tinggi untuk menyelidiki kutub di planet itu. Tapi kekuatan cahaya laser tersebut lemah, hanya cukup kuat untuk membedakan daerah es terang dari sekitar regolith (lapisan longgar material heterogen meliputi batuan padat) Merkurius.

Saat itu, Neumann mengatakan "hasilnya membuat penasaran". Karena ada
beberapa titik terang dalam kawah.
Materi Organik
Neuman ingat bahwa anggota tim John Cavanaugh cukup yakin apa yang mereka temukan. Cavanaugh telah menjadi bagian dari tim Lunar Reconnaissance Orbiter (LSO) NASA dan ia telah melihat pola aneh yang sama di bulan milik Bumi saat LRO menemukan es di kutub bulan Bumi pada 2009.

Pemanasan cahaya di Merkurius akan mencampur hampir semua es dengan sekitar regolith. Serta ada kemungkinan material organik yang menempel ke planet berkat komet dan asteroid yang kaya es.

"Jadi, apa yang Anda lihat adalah fakta bahwa air es tidak dapat bertahan hidup tanpa batas di lokasi tersebut. Karena suhu tampaknya melonjak," kata Neumann.

Messenger menggunakan neutron spektrometer untuk mengukur zat cair, yang merupakan komponen besar di es. Tetapi profil temperatur tiba-tiba menunjukkan kondisi gelap, material mudah menguap yang bercampur dengan es. Kondisi ini sama dengan iklim di mana organik bertahan hidup.

"Ini sangat menarik. Anda mencari bahan-bahan yang cerah dan Anda melihat hal-hal gelap. Astaga, ini adalah sesuatu yang baru," kata Neumann.

Material organik merupakan "unsur kehidupan", meskipun material tersebut
tidak selalu mengarah pada adanya bukti kehidupan itu sendiri. Sementara beberapa ilmuwan berpikir komet yang memuat material organik mencetuskan teori terbentuknya kehidupan di Bumi.
Kehadiran organik juga dicurigai pada tempat di mana udara tidak dapat masuk, seperti Pluto. Para ilmuwan mengatakan komet membawa sedikit organik yang menabrak planet lain seringkali terjadi selama sejarah tata surya.

Para peneliti saat ini bekerja untuk menentukan apakah mereka memang melihat organik di Merkurius. Menurut paper Neumann, sejauh ini, para peneliti menduga air es Merkurius  dilapisi dengan 4-inci atau 10 cm "material isolasi thermal".

Penentuan tersebut akan memakan waktu studi lebih lanjut untuk mengetahui apa materi tersebut. Namun Neumann mengatakan kurva temperatur awal bisa menunjukkan material organik seperti asam amino.

Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari. Karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein. (Space.com | umi)

sumber:http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/371490-nasa-temukan-es-di-planet-paling-dekat-matahari

Kamis, 29 November 2012

PPP Sambut Baik Kemenangan Politik Palestina di PBB

PPP Sambut Baik Kemenangan Politik Palestina di PBB

Status negara Palestina didukung mayoritas negara anggota PBB.

Jum'at, 30 November 2012, 11:41 Mohammad Adam
Suka cita rakyat Palestina atas dukungan PBB.
VIVAnews - Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Roamhurmuziy menyatakan status negara Palestina yang didukung 138 negara dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) patut disyukuri sebagai hasil perjuangan yang menggembirakan.

"Dukungan ini kemenangan politik bagi perjuangan hak bangsa Palestina," ujar Romahurmuziy dalam pesan singkat kepada VIVAnews, Jumat 30 November 2012.

Meski begitu, menurut Romi -sapaan Romahurmuziy-, kemenangan dukungan mayoritas dalam Majelis Umum PBB ini masih perlu ditindaklanjuti dengan prosedur penentuan wilayah Palestina yang sah. "Dukungan ini harus berlanjut pada kemenangan dan kewenangan teritorial yang masih belum stabil," kata Romi.

Dengan demkikian, lanjut Romi, Indonesia sebagai negara sahabat yang menaruh simpati pada perjuangan Palestina selama ini dapat berperan aktif mengawal pelaksanaan prosedur itu.

"PBB harus menempatkan pasukan penjaga perdamaian untuk mengawal dukungan ini secara prosedural, dengan melibatkan seluruh kekuatan negara-negara yang selama ini cukup memberi perhatian kepada persoalan Palestina, termasuk Indonesia," kata Romi.

Sebelumnya, hasil pemungutan suara Majelis Umum PBB, Kamis 29 November 2012, menggembirakan masyarakat Palestina dan warga dunia yang bersimpati pada Palestina. Mayoritas negara anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui Palestina tidak lagi hanya berstatus sebagai "pengamat" melainkan sudah menjadi "negara pengamat non-anggota." Dengan demikian, Palestina sekaligus diakui sebagai sebuah negara berdaulat. Namun, pengakuan Palestina ini tidak disetujui semua negara anggota Majelis Umum PBB, terutama AS dan Israel.

Setidaknya, 17 negara di Eropa mendukung lahirnya Palestina, Austria, Prancis, Italia, Norwegia, dan Spanyol. Ini merupakan hasil upaya Abbas yang fokus melobi Eropa. Sementara Inggris, Jerman, dan lain-lain memilih untuk abstain.